Makna Spirit Biola Ahmad Dahlan

By: mas huda

Okt 04 2010

Tag:, ,

Kategori: dakwah

Tinggalkan komentar

Tatkala menonton film ”Sang Pencerah”, kita terkesima melihat Kiai Haji Ahmad Dahlan memainkan biola di depan santrinya. Mengapa? Ketika salah seorang santri bertanya apakah agama itu? Gesekan biola yang merdu dijadikan alat untuk menjelaskan, sedangkan santri mendapatkan jawaban masing-masing. Ahmad Dahlan ingin menjelaskan bahwa agama adalah harmoni, keindahan, dan pembelajaran. Agama sebagaimana musik atau nada yang harmonis sehingga menciptakan keindahan.Adapun musik tidak bisa dimainkan kecuali melalui proses pembelajaran sampai mampu memainkannya.

Hanung Bramantya, sang sutradara menjadikan sekuel itu babak paling menggairahkan di antara babak lain yang cenderung mengharukan, menggelikan, dan memprihatinkan akan kebodohan dan kenestapaan umat muslim saat itu. Bagaimana memaknai biola saat ini? Tentu tidak serta merta menjadi penggerak Muhammadiyah yang harus pandai bermain biola, sebagai identitas atau alat pembeda dari gerakan yang lain. Jika direnungkan ada beberapa makna spirit dari biola Ahmad Dahlan, antara lain keberanian tampil memesona, terobosan memecah kebekuan kultural, dan kemampuan menangkap instru mentasi dakwah.

Biola, seabad yang lalu bagi umat memang terasa asing. Namun Ahmad Dahlan mampu membangun semangat untuk kemanusian yang terkait dengan pengentasan kemiskinan dan mencerdaskan umat. Dia juga mampu meletakkan dasar-dasar organisasi formal untuk membangun sekolahan, panti asuhan. dan balai pengobatan.

Nasruddin Anshoriy Ch, dalam buku Matahari Pembaruan: Rekam Jejak Ahmad Dahlan menjelaskan bahwa sebelum mendirikan Muhammadiyah, Ahmad Dahlan telah ikut serta dalam pergerakan nasional di Indonesia.

Tahun 1909, dia berkenalan dengan Boedi Oetomo, yang kemudian menjadi anggota. Tahun 1910, ia juga men jadi anggota Jamiat Khoir, organisasi Islam bergerak di bidang pendidikan yang mayoritas anggotanya adalah orang Arab.

Kemudian dia berusaha dapat diterima menjadi guru agama di sekolah modern (Hicks School) yang dikelola Belanda karena prihatin banyak putra ningrat Jawa yang tidak mengenal Islam.

Misi Utama Dakwah kultural gaya Muhammadiyah ini, untuk memaknai biola tidak sekadar harus atau selalu memiliki marching band di sekolahan Muhammadiyah. Biola adalah spirit, bukan ”syari’at”, oleh karena itu Muhammadiyah harus selalu menunjukkan hal yang baru. Jika hanya meng andalkan semangat pendirian sekolah, panti asuhan, dan rumah sakit yang ”standar” berarti Muhammadiyah belum mampu memaknai spirit dari biola itu.

Bagaimana seharusnya amal usaha yang harus lahir dari inspirasi Ahmad Dahlan?
Muhammadiyah harus lebih dari sekadar standar kare na ketiganya sudah bukan hanya Muhammadiyah yang mengelolanya. Bagaimana jika biola dihubungkan dengan misi utama, memberantas penyakit kronis kejumudan umat terkait takhayul, bid’ah, dan churafat (TBC)? Setelah seabad lalu Ahmad Dahlan ditemani biola mampu mencerahkan umat, bagaimana sekarang? Tentu dengan metode dan instrumen baru, menjadikan Muhammadiyah bukan organisasi biasa.

Supaya tidak menjadi tua perlu sebuah pembaruan. Tua dalam terminologi Jawa bisa diartikan mengidap tiga S, yaitu menjadi sepi (sedikit peminat), sepa(terasa hambar), dan sepah (sampah yang dibuang). Dikatakan sepi karena sudah tidak diminati, hilang gairah untuk jumpa dengannya. Menjadi tua akan terasa sepa (hambar), kehilangan heroisme, romantisme, sehingga nuansa keindahannya hanya ketika dikenang. Menjadi sepah karena sudah ditinggalkan.

Karena itu, Muhammadiyah jangan menjadi tua meski umurnya sudah seabad. Bagaimana menjadi tetap muda dan menggairahkan bagi yang bergabung? Kuncinya adalah selalu menciptakan pembaruan pada setiap amal usaha sehingga amal usaha yang diciptakan oleh Ahmad Dahlan sebagai pilar pembaruan, tidak menjadi tua bahkan menjadi fosil.

Ahmad Dahlan memainkan biola, sebagaimana Sunan Kalijaga menjadikan wayang sebagai sarana dahwah. Itulah simbol peremajaan budaya. Dakwah kultural adalah bagaimana mengeksplorasi metode untuk memikat umat sehingga masyarakat rela hati berkurban dan beramal melalui media Muhammadiyah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: